Juni 4, 2026

Zoulikhab.com – Inspirasi Seni dan Kreativitas Modern

Zoulikhab menyajikan ragam inspirasi seni kontemporer, desain kreatif, dan ulasan karya artistik dunia yang dikemas khusus bagi para pecinta estetika.

Instalasi Terakota “Kekokohan Panji Sekartaji” Karya Ponimin

Instalasi Terakota “Kekokohan Panji Sekartaji” Karya Ponimin | Kisah klasik Nusantara tidak pernah benar-benar mati; ia hanya menunggu tangan yang tepat untuk menghidupkannya kembali dalam bentuk yang segar. Di tangan Ponimin, seorang seniman terakota terkemuka asal Malang, narasi legendaris Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji bertransformasi menjadi sebuah karya seni instalasi yang megah dan filosofis. Melalui karya berjudul “Kekokohan Panji Sekartaji”, Ponimin membuktikan bahwa tanah liat dan tradisi dapat berbicara lantang di tengah arus seni modern.

Perpaduan Tradisi dan Inovasi Visual

instalasi-terakota-kekokohan-panji-sekartaji-karya-ponimin

Karya ini bukan sekadar pajangan estetis, melainkan sebuah rekonstruksi visual dari keanggunan tarian asmara yang melegenda. Dipamerkan dalam ajang bergengsi Art East Ism—hasil kolaborasi antara Jurusan Seni dan Desain Universitas Negeri Malang (UM) dengan Galeri Nasional Indonesia—instalasi ini mencuri perhatian pengunjung lewat detailnya yang luar biasa.

Ponimin memilih medium terakota bukan tanpa alasan. Tanah liat yang menjadi bahan baku utama didatangkan khusus dari Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang. Wilayah ini dikenal memiliki kualitas tanah liat yang prima, memberikan daya tahan dan warna alami yang khas pada hasil akhirnya. Ketegasan bahan ini seolah menjadi simbol dari “kekokohan” cinta yang ingin disampaikan sang seniman.

Kerumitan di Balik Ribuan Manik-Manik

Jika kita melihat lebih dekat, daya tarik utama instalasi ini terletak pada teknik pembuatannya yang sangat kompleks. Ponimin menggunakan teknik untaian manik-manik terakota, sebuah metode yang menuntut kesabaran ekstra tinggi. Prosesnya meliputi beberapa tahap krusial:

  1. Pengolahan Bahan: Tanah liat dibentuk menjadi ribuan potongan gerabah kecil.

  2. Pembakaran: Setiap potongan harus melewati proses pembakaran dengan suhu yang tepat untuk memastikan kekuatan dan teksturnya.

  3. Perangkaian: Tahap yang paling rumit adalah menyatukan potongan-potongan tersebut satu demi satu.

Bayangkan saja, terdapat lebih dari 2.000 potongan terakota yang dirangkai sedemikian rupa hingga membentuk kesatuan instalasi yang harmonis. Dedikasi Ponimin dalam mengerjakan setiap butiran manik ini mencerminkan keseriusannya dalam mengapresiasi warisan budaya Panji.

Lebih dari Sekadar Kisah Cinta

Mengapa cerita Panji tetap relevan hingga hari ini? Bagi Ponimin, esensi dari kisah Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji jauh melampaui romansa permukaan. Cerita ini adalah sebuah pengajaran hidup tentang nilai-nilai kemanusiaan yang mulai langka.

“Bukan hanya soal asmaranya, cerita Panji mengajak kita semua belajar tentang ketulusan, keikhlasan, dan menjaga komitmen,” ungkap Ponimin.

Dalam narasinya, Panji dan Sekartaji seringkali harus melewati berbagai rintangan, penyamaran, dan pengembaraan panjang sebelum akhirnya bersatu. Perjalanan inilah yang oleh Ponimin diterjemahkan ke dalam struktur instalasi yang kokoh namun tetap luwes. Manik-manik yang terangkai menjadi metafora bahwa sebuah hubungan yang kuat terbentuk dari kepingan-kepingan pengalaman, kesabaran, dan ikatan yang tak terputus.

Dampak Budaya dan Pendidikan Seni

Hadirnya karya “Kekokohan Panji Sekartaji” di pameran Art East Ism memberikan angin segar bagi dunia seni rupa kontemporer Indonesia. Kolaborasi antara akademisi dari Universitas Negeri Malang dan Galeri Nasional Indonesia ini menegaskan pentingnya riset berbasis budaya dalam penciptaan karya seni.

Langkah Ponimin dalam mengangkat kearifan lokal Malang melalui material lokal dan tema lokal patut diapresiasi. Hal ini memberikan pesan kepada generasi muda bahwa inspirasi terbaik seringkali berada sangat dekat dengan akar budaya kita sendiri. Karya ini mengajak pengunjung untuk tidak hanya melihat keindahan bentuk, tetapi juga merenungi kembali makna komitmen dan ketulusan dalam kehidupan personal maupun sosial.

Melalui instalasi manik-manik terakota yang rumit, Ponimin berhasil menjembatani masa lalu dan masa kini. “Kekokohan Panji Sekartaji” adalah bukti nyata bahwa seni instalasi mampu menjadi wadah yang kuat untuk melestarikan nilai-nilai moral. Tanah liat dari Bantur itu kini bukan lagi sekadar tanah, melainkan monumen cinta dan kesetiaan yang akan terus menginspirasi siapa saja yang memandangnya.

Share: Facebook Twitter Linkedin

Comments are closed.